ZanithaCoba Gratis
← Semua tulisan

Kata-Kata Undangan Pernikahan dan Cara Menyusunnya

30/07/2026 · 7 menit baca

Bagian-bagian yang selalu ada di undangan pernikahan

Sebelum menyusun kalimat, ada baiknya mengenal dulu bagian-bagian yang biasanya selalu muncul di undangan pernikahan, apa pun gaya bahasanya. Ada kalimat pembuka yang bersifat menyapa atau mengajak, ada nama kedua mempelai beserta nama orang tua masing-masing, ada informasi waktu dan tempat untuk akad maupun resepsi, dan biasanya ditutup dengan kalimat harapan kehadiran serta doa restu.

Mengenali bagian-bagian ini lebih dulu membantu supaya proses menulis tidak dimulai dari halaman kosong. Alih-alih memikirkan satu paragraf panjang sekaligus, tulis tiap bagian secara terpisah, lalu gabungkan belakangan sesudah semuanya terasa pas. Cara ini juga memudahkan kalau undangan digital yang dipakai memisahkan tiap bagian ke field yang berbeda, seperti kalimat pembuka, nama mempelai, dan detail acara yang masing-masing diisi sendiri-sendiri.

Urutan bagian-bagian ini tidak mutlak harus sama persis di semua undangan, tapi pola yang paling umum adalah pembuka, lalu nama mempelai dan orang tua, lalu waktu dan tempat, dan ditutup dengan harapan kehadiran. Kalau salah satu bagian ini terlewat, undangan biasanya terasa kurang lengkap meski secara bahasa sudah rapi.

Menyusun kalimat pembuka

Kalimat pembuka biasanya berfungsi menyapa penerima sebelum masuk ke inti undangan. Untuk nada yang formal dan sarat nilai keagamaan, kalimat pembuka sering diawali dengan ucapan syukur, misalnya: "Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kami bermaksud menyelenggarakan pernikahan putra-putri kami."

Untuk nada yang lebih hangat dan personal, kalimat pembuka bisa langsung mengajak tanpa nuansa keagamaan yang kental, misalnya: "Tanpamu, hari bahagia kami terasa kurang lengkap. Dengan penuh sukacita, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir dan memberikan doa restu di hari pernikahan kami."

Ada juga pembuka yang ditulis seolah langsung dari kedua mempelai, tanpa perantara kalimat formal dari keluarga, misalnya: "Kami yang berbahagia, akan melangsungkan pernikahan dan mengharapkan kehadiran serta doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian."

Ketiga contoh ini bisa dipakai langsung apa adanya, atau dijadikan kerangka lalu disesuaikan sedikit dengan gaya bahasa keluarga masing-masing. Yang penting, kalimat pembuka konsisten dengan nada keseluruhan undangan — kalau pembukanya formal tapi bagian selanjutnya tiba-tiba santai, undangan akan terasa janggal dibaca dari atas ke bawah.

Menuliskan nama mempelai dan orang tua

Urutan yang paling umum dipakai adalah nama mempelai wanita disebut lebih dulu, diikuti nama mempelai pria, meski urutan ini bisa dibalik sesuai kebiasaan keluarga masing-masing. Nama orang tua biasanya dicantumkan sebagai keterangan di bawah nama mempelai, ditulis dengan format "Putri dari Bapak [nama ayah] dan Ibu [nama ibu]".

Contoh susunan yang siap dipakai: "Naya Ardiansyah, Putri dari Bapak Hasan Ardiansyah dan Ibu Ratna Wulandari, dengan Dimas Prasetyo, Putra dari Bapak Wibowo Prasetyo dan Ibu Sri Handayani." Susunan ini bisa langsung diadaptasi dengan mengganti nama mempelai dan orang tua sesuai kondisi masing-masing.

Untuk keluarga yang salah satu orang tuanya sudah tiada, biasanya ditambahkan keterangan "(Almarhum)" atau "(Almarhumah)" setelah nama yang bersangkutan, misalnya "Putra dari Bapak Wibowo Prasetyo (Almarhum) dan Ibu Sri Handayani". Penambahan keterangan ini umum dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan tidak dianggap mengganggu keindahan kalimat.

Untuk mempelai yang orang tuanya sudah bercerai atau menikah lagi, format nama orang tua bisa disesuaikan dengan menyebut masing-masing secara terpisah, misalnya menuliskan nama ayah dan ibu tirinya sendiri-sendiri kalau memang ingin dicantumkan. Tidak ada aturan baku untuk situasi ini — yang penting nama yang dicantumkan sudah disepakati bersama pihak keluarga supaya tidak menimbulkan salah paham setelah undangan tersebar.

Menulis waktu dan tempat supaya tidak membingungkan

Bagian waktu dan tempat sering ditulis terlalu ringkas sehingga tamu masih harus bertanya ulang lewat pesan pribadi. Supaya jelas, pisahkan dulu antara acara akad dan resepsi kalau keduanya diadakan terpisah, lalu tuliskan masing-masing dengan hari, tanggal, jam mulai, dan lokasi lengkap.

Contoh yang cukup jelas: "Akad Nikah akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB, bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Jalan Melati No. 12, Bandung." Untuk resepsi yang diadakan di tempat berbeda, tuliskan sebagai bagian terpisah: "Resepsi Pernikahan akan dilaksanakan pada hari yang sama, pukul 11.00 WIB sampai selesai, bertempat di Gedung Serbaguna Wijaya Kusuma, Jalan Anggrek No. 45, Bandung."

Kalau acara akad dan resepsi diadakan di tempat yang sama, tetap tuliskan jam masing-masing secara terpisah supaya tamu yang hanya bisa hadir di salah satu sesi tahu jam berapa harus datang. Menuliskan "pukul 08.00 WIB sampai selesai" untuk seluruh rangkaian acara sering membuat tamu bingung kapan sebenarnya resepsi dimulai.

Untuk undangan digital, biasanya ada tempat khusus menambahkan tautan peta di samping alamat tertulis. Menyertakan tautan ini sangat membantu tamu dari luar kota yang belum familiar dengan lokasi, dan mengurangi pertanyaan arah yang biasanya masuk ke host menjelang hari-H.

Nada bahasa: formal versus santai

Pemilihan nada bahasa sebaiknya disesuaikan dengan siapa tamu yang paling banyak diundang dan bagaimana kebiasaan keluarga dalam berkomunikasi. Nada formal cocok untuk acara yang melibatkan banyak tamu senior, tokoh masyarakat, atau keluarga yang memang terbiasa dengan bahasa undangan tradisional.

Contoh nada formal untuk kalimat penutup: "Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai." Nada semacam ini terasa hangat tanpa kehilangan kesan hormat kepada penerima.

Sementara itu, nada santai lebih cocok untuk undangan yang mayoritas ditujukan ke teman sebaya atau kerabat dekat yang sudah biasa berkomunikasi kasual. Contoh nada santai untuk kalimat penutup: "Yuk, rayakan hari bahagia kami! Kehadiranmu jadi hadiah paling berarti buat kami berdua."

Tidak ada keharusan memilih satu nada secara mutlak untuk seluruh undangan. Beberapa keluarga memilih menyusun dua versi kalimat penutup — satu formal untuk kelompok tamu tertentu, satu santai untuk kelompok lainnya — meski bagian nama mempelai dan detail waktu tempat tetap sama persis di kedua versi.

Contoh susunan lengkap

Berikut beberapa contoh susunan lengkap yang bisa langsung dipakai atau diadaptasi dengan mengganti nama, tanggal, dan lokasi sesuai kebutuhan.

  • Versi formal: "Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kami bermaksud menyelenggarakan pernikahan putra-putri kami, Naya Ardiansyah, Putri dari Bapak Hasan Ardiansyah dan Ibu Ratna Wulandari, dengan Dimas Prasetyo, Putra dari Bapak Wibowo Prasetyo dan Ibu Sri Handayani. Akad Nikah akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB, bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Jalan Melati No. 12, Bandung, dilanjutkan dengan Resepsi pada pukul 11.00 WIB sampai selesai di tempat yang sama. Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai."
  • Versi santai: "Hai! Kami, Naya dan Dimas, mau merayakan hari bahagia kami dan pengen kamu ada di sana. Akad Nikah: Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB di Masjid Al-Ikhlas, Jalan Melati No. 12, Bandung. Resepsi: hari yang sama, pukul 11.00 WIB sampai selesai, di tempat yang sama. Yuk, rayakan hari bahagia kami — kehadiranmu jadi hadiah paling berarti buat kami berdua."
  • Versi singkat untuk pesan personal lewat WhatsApp sebelum link undangan digital dikirim: "Assalamualaikum, Kak. Aku dan Dimas mau ngundang Kakak ke acara pernikahan kami tanggal 15 Agustus 2026 di Bandung. Detail lengkap acara dan lokasi ada di link berikut, ya. Ditunggu kehadirannya, Kak!"
  • Versi untuk kerabat yang lokasinya jauh dan kemungkinan besar tidak bisa hadir langsung: "Meski jarak memisahkan, kami tetap ingin berbagi kebahagiaan ini dengan Bapak/Ibu/Saudara/i. Naya dan Dimas akan melangsungkan pernikahan pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026 di Bandung. Doa restu dari jauh sudah menjadi hadiah yang sangat berarti bagi kami."